PENDAHULUAN
Perkembangan Kebudayaan Islam pada Masa Modern
Kebudayaan umat
Islam pada masa pembaharuan berkembang ke arah yang lebih maju. Hal ini dapat
dipelajari di berbagai negara Islam atau negara yang berpenduduk mayoritas umat
islam, seperti Saudi Arabia, Mesir, Irak, Iran, Pakistan, Malaysia, Bruinei,
dan Indonesia.
Melalui bangsa Arab (Islam), Eropa dapat memahami ilmu pengetahuan kuno
seperti dari Yunani dan Babilonia. Tokoh tokoh yang mempengaruhi ilmu
pengetahuan dan kebudayaan saat itu antara lain sebagai berikut.
a. Al Farabi
(780-863M)
Al Farabi mendapat gelar guru kedua (Aristoteles digelari guru pertama).
Al Farabi mengarang buku, mengumpulkan dan menerjemahkan buku-buku karya
aristoteles
b. Ibnu Rusyd
(1120-1198)
Ibnu Rusyd memiliki peran yang sangat besar sekali pengaruhnya di Eropa
sehingga menimbulkan gerakan Averoisme (di Eropa Ibnu Rusyd dipanggil Averoes)
yang menuntut kebebasan berfikir. Berawal dari Averoisme inilah lahir roformasi
pada abad ke-16 M dan rasionalisme pada abad ke-17 M di Eropa. Buku-buku
karangan Ibnu Rusyd kini hanya ada salinannya dalam bahasa latin dan banyak
dijumpai di perpustakaan-perpustakaan Eropa dan Amerika. Karya beliau dikenal
dengan Bidayatul Mujtahid dan Tahafutut Tahaful.
c. Ibnu Sina
(980-1060 M)
Di Eropa, Ibnu Sina dikenal dengan nama Avicena. Beliau adalah seorang
dokter di kota Hamazan Persia, penulis buku-buku kedokteran dan peneliti
berbagai penyakit. Beliau juga seorang filsuf yang terkenal dengan idenya
mengenai paham serba wujud atau wahdatul wujud. Ibnu Sina juga merupakan ahli
fisika dan ilmu jiwa. Karyanya yang terkenal dan penting dalam dunia kedokteran
yaitu Al Qanun fi At Tibb yang menjadi suatu rujukan ilmu kedokteran
BAB II
ISI
Perkembangan Islam pada masa modern meliputi
aspek-aspek sebagai berikut:
1. Huruf, Bahasa, dan Nama-Nama Arab
Al-Quran, sebagai kitab suci Islam, menggunakan bahasa
Arab, bahasa-ibu Nabi Muhammad. Dalam perkembangannya, bahasa Arab digunakan
juga oleh para muslim yang non-Arab dalam berbagai kegiatan agama, terutama
shalat dan mengaji (membaca Al-Quran). Tak jarang seorang muslim yang pandai
membaca Al-Quran dakam bahasa Arab namun ia kurang atau tidak mengerti arti
harfiah teks-teks dalam kitab suci tersebut. Dan memang salah satu hadis
menyatakan bahwa sangat diwajibkan bagi setiap muslim untuk membaca Quran meski
orang bersangkutan tak mengetahui arti dan makna ayat-ayat yang dibacakan
(kecuali ia membaca terjemaahannya).
Dari kebiasaan tersebut, pengaruh bahasa Arab lambat laut merambat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Persebarah bahasa Arab ini lebih cepat dari pada persebaran bahasa Sansekerta karena dalam Islam tak ada pengkastaan, karena itu dari raja hingga rakyat jelata mampu berbahasa Arab. Pada mulanya memang hanya kaum bangsawan saja yang pandai meulis dan membaca huruf dan bahasa Arab, namun pada selanjutnya rakyat kecil pun mampu berbahasa Arab, setidaknya membaca dan menulis Arab kendati tak begitu paham akan maknanya.
Penggunaan huruf Arab di Indonesia pertama kali terlihat pada batu nisan di Leran Gresik, yang diduga makam salah seorang bangsawan Majapahit yang telah masuk Islam. Dalam perkembangan selanjutnya, pengaruh huruf dan bahasa Arab terlihat pada karya-karya sastra di wilayah-wilayah yang keislamannya lumayan kuat seperti di Sumatera, Sulawesi, Makassar, dan Jawa. Penggunaan bahasa Arab pun berkembang di pesantren-pesanten Islam.
Penulisan huruf Arab berkembang pesat ketika karya-karya yang bercorak Hindu-Buddha disusupi unsur-unsur Islam. Huruf yang lebih banyak dipergunakan adalah aksara Arab gundul (pegon), yakni abjad arab yang ditulis tanpa tanda bunyi. Sedangkan bahasanya masih menggunakan bahasa setempat seperti Melayu, Jawa, dan bahasa-bahasa ibu lainnya. Sebelum bersentuhan dengan budaya Eropa (Portugis dan Belanda}, kitabkitab (sastra, hukum, sejarah) ditulis dengan huruf pegon ini. Di samping melalui kesusatraan, penggunaan bahasa dan huruf Arab terjadi di kalangan pedagang. Dalam kalender Masehi, nama-nama hari yang berjumlah tujuh dalam seminggu, di Indonesia menggunakan nama-nama Arab, yakni Senin (Isnain), Selasa (Sulasa), Rabu (Rauba’a), Kamis (Khamis), Jumat (Jum’at), Sabtu (Sabt). Enam dari tujuh hari tersebut semuanya berasal dari bahasa Arab, kecuali Minggu (bahasa Arabnya: Ahad) yang berasal dari Flaminggo dari bahasa Portugis. Hanya orang-orang tertentu yang menggunakan kata “ahad” untuk hari Minggu. Pengabadian istilah “minggu” dilakukan oleh umat Nasrani Portugis ketika melakukan ibadah di gereja pada hari bersangkutan. Selain huruf, sistem angka (0, 1, 2, 3, dan seterusnya) pun diadopsi dari budaya Arab; bahkan semua bangsa mempergunakannya hingga kini.
Selain nama-nama hari, nama-nama Arab diterapkan pula pada
nama-nama orang, misalnya Muhammad, Abdullah, Umar, Ali, Musa, Ibrahim, Hasan,
Hamzah, dan lain-lain. Begitu pula kosa kata Arab—kebanyakan diambil dari
kata-kata yang ada dalam Al-Quran—banyak yang dipakai sebagai nama orang,
tempat, lembaga, atau kosakata (kata benda, kerja, dan sifat) yang telah
diindonesikan, contohnya: nisa (perempuan), rahmat, berkah (barokah), rezeki
(rizki), kitab, ibadah, sejarah (syajaratun), majelis (majlis), hebat (haibat),
silaturahmi (silaturahim), hikayat, mukadimah, dan masih banyak lagi. Banyak di
antara kata-kata serapan tersebut yang telah mengalami pergeseran makna
(melebar atau menyempit), seiring dengan perkembangan zaman.
2. Bangunan Fisik (Arsitektur)
Islam telah memperkenalkan tradisi baru dalam bentuk
bangunan. Surutnya Majapahit yang diikuti oleh perkembangan agama Islam
menentukan perubahan tersebut. Islam telah memperkenalkan tradisi bangunan,
seperti mesjid dan makam. Islam melarang pembakaran jenazah yang merupakan
tradisi dalam ajaran Hindu-Buddha; sebaliknya jenazah bersangkutan harus
dimakamkan di dalam tanah. Maka dari itu, peninggalan berupa nisan bertuliskan
Arab merupakan pembaruan seni arsitektur pada masanya.
Islam pertama kali menyebar di daerah pesisir melalui
asimilasi, perdagangan dan penaklukan militer. Baru pada abad ke-17, Islam
menyebar di hampir seluruh Nusantara. Persebaran bertahap ini, ternyata tidak
berpengaruh terhadap kesamaan bentuk arsitektur di seluruh kawasan Islam. Sebagian
arsitektur Islam banyak terpengaruh dengan tradisi Hindu-Buddha yang juga telah
bersatu padu dengan seni tradisional. Persebaran Islam tidak dilakuan secara
revolusioner yang berlangsung secara tibatiba dan melalui pergolakan politik
dan sosial yang dahsyat.
Memang, menurut Tome Pires (De Graaf dan Pigeaud), terdapat penyerbuan secara
militer terhadap ibukota Majapahit yang masih Hindu-Buddha yang dilakukan oleh
sejumlah santri dari Kudus yang dipimpin oleh Sunan Kudus dan Rahmatullah Ngudung
atau Undung. (Nama Kudus diambil dari kata al-Quds atau Baitul Maqdis di
Yerusalem, Palestina, yang merupakan kota suci umat Islam ketiga setelah Mekah
dan Madinah). Namun, secara umumnya proses islamisasi berlangsung dengan damai.
Dengan jalan damai ini, Islam dapat diterima dengan tangan terbuka. Pembangunan
tempat-tempat ibadah tidak sepenuhnya mengadospi arsitektur Timur Tengah. Ada
masjid yang bangunannya merupakan perpaduan budaya Islam-Hindu-Buddha, misalnya
Masjid Kudus—meskipun pembangunannya diragukan, apakah dibangun oleh umat Hindu
atau Islam. Ini terlihat dari menara masjid yang berwujud seperti candi dan
berpatung. Masjid lain yang bercorak campuran adalah Masjid Sunan Kalijaga di
Kadilangu dan Masjid Agung Banten. Atap pada Masjid Sunan Kalijaga berbentuk
undak-undak seperti bentuk atap pura di Bali atau candi-candi di Jawa Timur.
Tempat sentral perubahan seni arsitektur dalam Islam terjadi di pelabuhan yang
meruapkan pusat pembangunan wilayah baru Islam. Sementara para petani di
pedesaan dalam hal seni arsitektur masih mempertahankan tradisi Hindu-Buddha.
Tak diketahui seberapa jauh Islam mengambil tradisi India dalam hal seni,
karena beberapa keraton yang terdapat di Indonesia usianya kurang dari 200
tahun. Pengaruhnya terlihat dari unsur kota. Masjid menggantikan posisi candi
sebagai titik utama kehidupan keagamaan. Letak makam selalu ditempatkan di
belakang masjid sebagai penghormatan bagi leluhur kerajaan. Adapula makam yang
ditempatkan di bukit atau gunung yang tinggi seperti di Imogiri, makam para
raja Mataram-Islam, yang memperlihatkan cara pandang masyarakat Indonesia
(Jawa) tentang alam kosmik zaman prasejarah. Sementara, daerah yang tertutup
tembok masjid merupakan peninggalan tradisi Hindu-Buddha.
Terdapat kesinambungan antara seni arsitektur Islam dengan tradisi sebelum
Islam. Contoh arsitektur klasik yang berpengaruh terhadap arsitektur Islam
adalah atap tumpang, dua jenis pintu gerbang keagamaan, gerbang berbelah dan
gerbang berkusen, serta bermacam unsur hiasan seperti hiasan kaya yang terbuat
dari gerabah untuk puncak atap rumah. Ragam hias sayap terpisah yang disimpan
pada pintu gerbang zaman awal Islam yang mungkin bersumber pada relief makara
atau burung garuda zaman pra-Islam. Namun sayang, peninggalan bentuk arsitektur
itu banyak yang dibuat dari kayu sehingga sangat sedikit yang mampu bertahan
hingga kini.
3. Kesusastraan
Karya sastra merupakan alat efektif dalam penyebaran
sebuah agama. Jalur sastra inilah yang ditempuh masyarakat muslim dalam
penyebaran ajaran mereka. Karya-karya sastra bercorak Islam yang ditulis di
Indonesia, terutama Sumatera dan Jawa, awalnya merupakan gubahan atas
karya-karya sastra klasik dan Hindu-Buddha. Cara ini ditempuh agar masyarakat
pribumi tak terlalu kaget akan ajaran Islam. Selanjutnya, tema-tema yang ada
mulai bernuansa Islami seperti kisah atau cerita para nabi dan rasul, sahabat
Nabi, pahlawan-pahlawan Islam, hingga raja-raja Sumatera dan Jawa. Adakalanya
kisah-kisah tersebut bersifat setengah imajinatif; dalam arti tak sepenuhnya
benar.
a. Karya-karya Sastra Islam-Melayu di Sumatera
Sumatera merupakan daerah pertama di Indonesia yang
dipengaruhi Islam secara politis. Kerajaan Islam tertua pun ada di sini, yakni
Samudera Pasai di Aceh. Karya sastra yang dibuat di Sumatera ini kebanyakan
menggunakan bahasa Melayu yang merupakan bahasa istana dan dagang, dengan
aksara Arab. Karya sastra di Sumatera ini macam-macam bentuknya, ada yang
berwujud kesusastraan agama, kesusastraan epos Islam, kesusastraan sejarah,
pantun, cerita berinduk, undang-undang, cerita binatang (fabel), bahkan persuratan.
Sedangkan dalam bentuknya ada yang puisi (syair) dan prosa. Berikut ini
beberapa karya sastra sejarah dan agama yang ada di Sumatera:
(1)
Hikayat
Raja-Raja Pasai, menceritakan asal mula Kesultanan Samudera Pasai yang
didirikan oleh Sultan Malik as-Saleh yang sebelumnya bernama Merah Sile (Merah
Selu), putera bangsawan Pasai, Merah Gajah. Merah merupakan gelar bagi
bangsawan Sumatera Utara. Merah Sile masuk Islam setelah bertemu dengan Syekh
Ismail, seorang utusan Syekh Mekah. Syekh Ismail pula yang memberikan nama
Malik as-Saleh padanya.
(2)
Hikayat
Aceh,
menceritakan sebagian besar tentang masa kanak-kanak hingga kebesaran Iskandar
Muda; juga dikisahkan berdirinya Kerajaan Aceh. Namun, nama penulis hikayat ini
tak diketahui; yang jelas, penulisnya ini bisa satu orang atau terdiri dari
beberapa orang penulis yang bekerja untuk pihak Aceh.
(3)
Syair
Burung Pungguk, Syair Burung Pingai, dan Syair Perahu, ketiganya hasil
karya Hamzah Fansuri yang memperkenalkan bentuk syair kepada khasanah sastra
Melayu. Fansuri hidup pada masa Sultan Iskandar Muda. Hamzah Fansuri memiliki
seorang murid bernama Syekh Syamsuddin as-Sumatrani (Syamsuddin Pasai).
(4)
Turjuman
al-Mustafid (Terjemahan Pemberi Faedah), sebuah kitab tafsir Al-Quran
dalam bahasa Melayu karya Abdur Rauf Singkel, merupakan buku tafsir pertama
berbahasa Melayu yang ditulis di Indonesia. Abdur Rauf Singkel adalah pendiri
Tarekat Syattariah di Aceh pada masa pemerintahan Sultanah Safiatuddin Tajul
Alam.
(5)
Hikayat
Perang Palembang, para penulisnya tak diketahui, mengisahkan perang antara
pasukan Kerajaan Palembang melawan Hindia Belanda.
(6)
Hikayat
Melayu, di
antaranya menceritakan cerita Panji Damar Wulan, perkawinan Sultan Malaka
Mansur Syah dengan puteri Jawa dan Cina, serangan Peringgi (Portugis) ke Malaka
tahun 1511.
(7)
Bustan
al-Salatin, yang ditulis Nuruddin ar-Raniri pada masa Sultan Iskandar
Thani, menceritakan sejarah Kerajaan Aceh, raja-raja sebelum Iskandar Thani,
masa kecil, perkawinan, pemakaman Baginda Iskandar Thani, hingga tiga orang
raja setelah Baginda. Selain itu, kitab ini pun membahas proses penciptaan alam
semesta, para nabi, pahlawan, bahkan ilmu pengetahuan.
(8)
Syair
Perang Mengkasar, ditulis oleh Encik Amin, mengisahkan kejadian peperangan
antara rakyat Makassar menghadapi VOC Belanda.
Sebentulnya masih banyak lagi kitab sastra berjenis sejarah dan keagaman.
Berikut ini karya sastra tentang epos Islam: Hikayat Iskandar Zulkarnain,
Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Muhammad Hanifah. Sementara itu cerita berinduk
contohnya Hikayat Bayan Budiman. Keempat kitab tersebut ditulis pada masa
Samudera Pasai.
Selain Hamzah Fansuri, Abdur Rauf Singkel, dan Nuruddin ar-Raniri; ada beberapa
nama pengarang Melayu yang cukup terkenal, di antara dari Riau, misalnya:
(1) Datuk Syahbandar Riau, menulis Kitab Adab al-Muluk;
(1) Datuk Syahbandar Riau, menulis Kitab Adab al-Muluk;
(2) Bilal Abu, menulis Syair Siti Zawiyah;
(3) Raja Ahmad, menulis Syair Raksi, Syair Engku Puteri, Syair Perang
Johor;
(4) Raja Ali, menulis Hikayat Riau, Syair Nasihat;
(5) Daeng Wuh, menulis Syair Sultan Yahya;
(6) Raja Abdullah, menulis Syair Madi, Syair Kahar
Mansyur, Syair Sarkan;
(7) Raja Ali Haji, merupakan penulis Melayu paling
terkenal sepanjang masa, karya-karyanya di antaranya adalah: Gurindam Dua
Belas, Syair Sultan Abdul Muluk, Bustan al- Katibin Li’l-Subyani al-Muta’alimin
(Perkebunan Jurutulis bagi Kanak-Kanak yang Hendak Menuntut Belajar akan Dia),
Ikatikatan Dua Belas Puji, Kitab Pengetahuan Bahasa, Syair Nasihat kepada
Pemerintah, Silsilah Melayu dan Bugis dan Sekalian Raja-rajanya, Syair Hukum
Nikah, dan masih banyak lagi.
(8) Tengku Said, menulis Hikayat Siak atau Sejarah Raja-Raja Melayu;
Selain terdapat di Sumatera, kesusastraan Melayu berkembang pula di Banjar,
Kalimantan Timur, yang mulai berkembang pada abad ke-18. Karya-karyanya berupa
kitab keagamaan, undang-undang, dan sastra sejarah seperti Hikayat Banjar yang
menceritakan proses islamisasi rakyat Banjar yang melibatkan Samudera Pasai dan
Majapahit. Selain itu, ada pula karya-karya sastra yang ditulis di Semenanjung
Melayu (Malaka). Sejumlah kerajaan seperti Johor, Melaka, Brunei, dan Pattani
di Muangthai memiliki karya-karya sastra tersendiri yang juga memakai bahasa
Melayu.
Pada
perkembangan selanjutnya, sastra berbahasa Melayu merupakan cikal-bakal
kesusastraan Indonesia modern, sebagaimana bahasa Melayu merupakan akar dari
bahasa Indonesia.
b. Karya-karya Sastra Islam di Jawa
Karya-karya bercorak Islam di Jawa Barat, Tengah, dan Timur kebanyakan
merupakan sastra sejarah dan suluk. Di antaranya ditulis dengan huruf Arab dan
berbahasa Jawa dan Sunda. Tidak seperti sastra-sastra Hindu-Buddha yang
jumlahnya terbatas dan sebagian hilang, karya-karya bercorak Islam jumlahnya
lebih banyak dan cukup terpelihara. Tema-temanya pun cenderung bersifat
kesejarahan (meski sebagian isinya dapat diragukan). Berikut ini beberapa karya
sastra yang ditulis pada masa Islam di Jawa, yaitu:
(1) Sajarah Banten, umumnya menceritakan riwayat
raja-raja Banten, raja-raja Demak yang berkaiatan dengan para penguasa Jepara,
kisah para sunan dan wali Islam. Sajarah Banten, di antaranya, menulis Ki Dilah
dari Palembang yang pernah membangkang terhadap Majapahit dua kali; lalu Pati
Unus sebagai penguasa Demak diperintah untuk menundukkan Ki Dilah dan berhasil.
Menurut Sajarah Banten, Sunan Giri dan Bonang pernah belajar Islam di Samudera
Pasai.
(2) Hikayat Hasanuddin, isinya lebih pendek dari Sajarah
Banten, memuat riwayat raja-raja Banten, Demak, Sunan Gunung Jati, serta
nama-nama imam di Mesjid Demak.
(3) Serat Kandha, ditulis pada abad ke-18 yang
bersumber dari karya-karya penulis pesisir utara Jawa abad ke-16 dan 17, memuat
kehidupan Sultan Trenggana Demak.
(4) Babad Mataram, merupakan ringkasan Serat Kandha,
ditulis pada abad ke-18 juga, keduanya menceritakan riwayat keluarga Mataram.
(5) Babad Sangkala, memuat daftar-daftar tarikh (tahun)
yang lumayan kumplit tentang peristiwa-peristiwa sejarah pada masanya.
(6) Sajarah Dalem, berisi silsilah keluarga raja
Mataram-Islam yang disusun di Surakarta (Solo) pada abad ke-19, di dalamnya
terdapat pula daftar generasi yang lebih tua dari raja-raja Mataram.
(7) Babad Pasir, berasal dari pedalaman Banyumas,
memuat seputar islamisasi di Jawa Tengah dan Timur yang kebenarannya diragukan
karena bersifat legenda.
(8) Babad Tanah Djawi, memuat asal-usul raja-raja di Jawa
dari masa Hindu-Buddha hingga Islam. Diceritakan bahwa rajaraja Jawa merupakan
keturunan langsung dari Nabi Adam, dewa-dewa Hindu, Arjuna dari Pandawa,
Jayabaya raja Kediri, raja-raja Mataram-Islam, hingga sepak terjang para Wali
(terutama Sunan Kalijaga) dalam menyiarkan Islam dan membangun Masjid Agung
Demak. Dari babad ini terlihat bahwa terjadi pencampuradukan antara kitab suci,
alam mitologi dewa Hindu, dunia pewayangan, dengan sejarah itu sendiri.
(9) Serat Rama, Serat Bharatayudha, Serat Mintaraga,
serta Arjuna Sastrabahu, karya sastrawan Yasadipura I, yang hidup dari tahun
1729 hingga 1803 yang hidup pada masa Paku Buwono II Surakarta. Yasadipura I
dipandang sebagai sastrawan besar Jawa. Ia menulis empat buku klasik yang
disadur dari bahasa Jawa Kuno (Kawi). Selain menyadur sastra-sastra Hindu-Jawa,
Yasadipura I juga menyadur sastra Melayu, yakni Hikayat Amir Hamzah yang
digubah menjadi Serat Menak. Ia pun menerjemahkan Dewa Ruci dan Serat Nitisastra
Kakawin. Ia menerjemahkan pula kitab Taj as-Salatin ke dalam bahasa Jawa
menjadi Serat Tajusalatin serta Anbiya. Selain itu, ia pun menulis naskah
bersifat kesejarahan secara cermat, yaitu Serat Cabolek dan Babad Giyanti.
4. Seni Rupa dan Kaligrafi
Seni rupa dalam dunia Islam berbeda dengan seni rupa dalam Hindu-Buddha. Dalam
ajaran Islam tak diperbolehkan menggambar, memahat, membuat relief yang
objeknya berupa makhluk hidup khususnya hewan. Maka dari itu, seni rupa Islam
identik dengan seni kaligrafi. Seni kaligrafi adalah seni menulis aksara indah
yang merupakan kata atau kalimat. Dalam Islam, biasanya kaligrafi berwujud
gambar binatang atau manusia (tapi hanya bentuk siluetnya saja). Ada pula, seni
kaligrafi yang tidak berbentuk makhluk hidup, melainkan hanya rangkaian aksara
yang diperindah. Teks-teks dari Al-Quran merupakan tema yang sering dituangkan
dalam seni kaligrafi ini. Sedangkan, bahanbahan yang digunakan sebagai tempat
untuk menulis kaligrafi ini adalah nisan makam, pada dinding masjid, mihrab
masjid, kain tenunan atau kertas sebagai pajangan atau kayu sebagai pajangan.
Selain huruf Arab, tradisi kaligrafi dikenal pula di Cina, Jepang, dan Korea.
5. Seni Tari dan Musik
Dalam bidang seni tari dan musik, budaya Islam hingga sekarang begitu terasa
dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Dalam perjalanannya,
kebudayaan Islam sebelum masuk ke wilayah Indonesia telah dahulu bercampur
dengan kebudayaan lain, misalnya kebudayaan Afrika Utara, Persia, anak Benua
India, dan lain-lain. Dan telah menjadi hukum alam, bahwa setiap tarian
memerlukan iringan musik. Begitu pula seni tari Islami, selalu diiringi alunan
musik sebagai penyemangat sekaligus sebagai sarana perenungan. Lazimnya
tarian-tarian ini dipraktikkan di daerah pesisir laut yang pengaruh Islamnya
kental, karena daerah pesisir merupakan tempat pertama kali Islam berkembang,
baik sebagai kekuatan ekonomi, sosial, budaya, dan politik.
Selain musik penyemangat, ada pula tarian dan musik yang bersifat sufistik,
yakni seni meleburkan diri dengan sang Pencipta. Biasanya ajaran sufi ini lahir
dari tarekat-tarekat yang didirikan oleh ulama. Pada abad ke-11, di Turki telah
lahir gerakan tarekat yang didirikan Jalaluddin Ar-Rumi yang memperkenalkan
tarian berputar atau tarian darwis. Darwis dalah sebutan bagi orang yang tengah
menjalani ajaran sufisme. Di Indonesia memang tari darwis ini kurang
berkembang, meski bukannya tidak ada.
a. Debus
Kesenian ini sebetulnya telah ada sebelum Islam lahir. Tarian debus berkembang
di daerah yang nuansa Islamnya cukup kental, seperti Banten, Minangkabau, dan
Aceh. Pertunjukan debus ini diawali dahulu oleh nyanyian atau pembacaan
ayat-ayat tertentu dalam Al-Qur’an serta salam (salawat) kepada Nabi Muhammad.
Pada puncak acara, para pemain debus menusuk-nusukkan benda tajam ke hampir
seluruh badannya, namun tetap kebal sehingga benda tajam tidak mempan menusuk
atau mengiris tubuhnya.
b. Seudati
Tari seudati berkembang di Aceh, daerah di Indonesia yang pertama dipengaruhi
budaya Islam. Kata “seudati” berasal dari kata syaidati, yang artrinya
permainan orang-orang besar. Tarian seudati sering disebut saman (yang berarti
delapan) karena permainan ini mula-mula dilakukan oleh delapan pemain. Dalam
tari seudati, para penari menyanyikan lagu tertentu yang isinya berupa salawat
terhadap Nabi.
c. Zapin
Selain tari seudati dan debus, ada sebuah jenis tarian yang hampir ada di
seluruh Nusantara, terutama daerah yang pengaruh unsur Islam sangat kuat, di
antaranya tari zapin yang dipraktikkan di Deli, Riau, Jambi, Sumatera Selatan,
Bengkulu, dan Lampung. Di Pulau Jawa, tarian zapin ini dilakukan oleh
masyarakat Jakarta, Pekalongan, Tuban, Gresik, Bondowoso, Yogyakarta, Madura,
Nusa Tenggara. Di samping Sumatera dan Jawa, daerah Kalimantan, Sulawesi,
Ternate, Seram, dan beberapa daerah di Maluku. Setiap daerah tersebut
mengembangkan tarian zapin ini menurut tradisinya masing-masing.
Kata zapin sendiri ditafsir berasal dari kata Arab, zafin yang berarti
melangkah atau langkah. Bisa pula dari kata zaf (alat petik berdawai 12
pengiring tarian) atau dari al-zafn (mengambil langkah atau mengangkat satu
kaki). Tari ini dibawa oleh pedagang Arab, Persia, dan India pada abad ke-13.
6. Seni Busana
Dalam
agama Islam, ada jenis pakaian tertentu yang menunjukkan identitas umat Islam.
Jenis pakaian tersebut adalah sarung, baju koko, kopeah, kerudung, jilbab, dan sebagainya.
BAB
III
PENUTUP
1.KESIMPULAN
Masa kebangkitan Islam atau disebut dengan masa
pembaharuan mulai menggeliat pada tahun 1800 M. Pada masa tersebut kalangan
kaum muslimin banyak yang mengerahkan pemikirannya untuk kemajuan agama Islam.
para Ulama, Cendekiawan muslim di berbagai wilayah Islam banyak yang intens
terhadap study Islam sehingga keortodokannya mulai ditinggalkannya. Sehingga
pada masa pembaharuan tersebut ilmu pengetahuan, kebudayaan dan ajaran islam
berkembang di berbagai Negara seperti Negara India, Turki, Mesir.
Tokoh pembaharu yag ternama adalah Muhammad ibn Abdul Wahab di Arabia
dengan Wahabiyahnya pada tahun 1703-1787 M. Gerakan ini memiliki pengaruh yang
besar pada abad ke – 19. Upaya dari gerakan ini adalah memperbaiki umat Islam
sesuai dengan ajaran Islam yang telah mereka campur adukkan dengan
ajaran-ajaran tarikat yang sejak abad ke 13 telah tersebar luas di dunia Islam.
Dalam bidang ilmu pengetahuan, di Turki Usmani
mengalami kemajuan dengan usaha-usaha dari Sultan Muhammad II yang melakukan
terhadap umat Islam di negaranya untuk dapat menguasai ilmu pengetahuan dan
teknologi dengan upaya melakukan pembaharuan dibidang pendidikan dan
pengajaran, lembaga-lembaga Islam diberikan muatan pelajaran umum dan upaya
mendirikan “ Mektebi Ma’arif” guna menghasilkan tenaga ahli dalam bidang
administrasi dan “Mektebi Ulumil Edebiyet” guna menghasilkan tenaga penterjemah
yang handal serta upaya mendirikan perguruan tinggi dengan berbagai jurusan
seperti kedokteran, teknologi dan militer.
Pada tanggal 1 November 1923 kesultanan Turki dihapuskan dan diganti
dengan Negara Republik dengan presiden pertamanya yaitu Musttafa Kemal At Turk,
IPTEK semakin maju. dan pada waktu itu juga di India bermunculan cendekiawan
muslim modern yang melakukan usaha-usaha agar umat Islam mampu menguasai IPTEK
seperti Sayid Ahmad Khan, Syah Waliyullah , Sayyid Amir, Muhammad Iqbal,
Muhammad Ali jinnah dan abdul Kalam Azad. salah satu dari cendekiawan tersebut
yang sangat menonjol dan besar jasanya terhadap umat Islam adalah Sayid Ahmad
Khan.
Penguasa Mesir yaitu Muhammad Ali (1805-1849) dalam
hal IPTEK agar maju berupaya dengan mengirimkan para mahasiswa untuk belajar
IPTEK ke perancis setelah lulus dijadikan pengajar di berbagai perguruan tinggi
seperti di universitas Al Azhar sehingga dengan cepat IPTEK menyebar ke seluruh
dunia Islam. Selain itu terdapat Universitas Iskandariyah di kota Iskandariah
yang memiliki fakultas kedokteran, Teknik, Farmasi, Pertanian, Hukum,
Perdagangan dan Sastra. Universitas Aiunusyam di kairo, Universitas Assiut,
Universitas Hilwan, universitas Suez, dan Universitas “The American University
in Cairo.
Pada perkembangan Islam abad modern,
umat islam timbul kesadarannya tentang pentingnya ajaran islam yang sesuai
dengan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW sehingga dapat dijadikan sebagai
pedoman hidup. karena umat Islam sudah jauh dari ajaran Rasulullah SAW yaitu
banyak penyimpangan-penyimpangan dari sumber asalnya, penyakit bid’ah, tahayul,
klenik, perdukunan, kemusrikan dll sangat merebak dan hamper seperti kehidupan
Jahiliyah. Dengan kondisi umat Islam tersebut maka muncullah para pembaharu
yaitu suatu gerakan pemurnian terhadap ajaran agama Islam yang sesuai dengan
ajaran yang bersumber pada Qur’an dan Hadits.
0 komentar:
Posting Komentar